Skip to main content

Ternyata Tingkat Penghasilan Dapat Mempengaruhi Kesehatan Jantung

Tingkat pendapatan, jika tidak stabil, dapat dengan mudah berubah menjadi pemicu stres. Namun, volatilitas pendapatan pribadi dapat memiliki efek yang lebih serius pada kesehatan jantung manusia.

Apakah berapa banyak uang yang kita peroleh dapat memengaruhi kesehatan jantung?


Sering diharapkan bahwa penghasilan seseorang akan terus meningkat hingga mereka mencapai usia pensiun. Namun, ini tidak selalu terjadi. Faktanya, pendapatan menjadi sangat tidak terduga sehingga volatilitas telah mencapai titik tertinggi sejak 1980.

Ketika penghasilan seseorang mengalami fluktuasi, hal itu dapat mengubah banyak faktor dalam kehidupannya. Hal ini dapat memengaruhi segalanya, mulai dari kesehatan mental hingga diet, yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang berpotensi serius.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pendapatan pribadi bahkan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan kematian. Yang paling mengejutkan adalah bahwa hubungan ini justru terjadi pada orang yang relatif muda. Hal ini diketahui dari penelitian yang sedang berlangsung terhadap kesehatan orang-orang muda yang tinggal di empat kota di Amerika Serikat selama hampir 3 dekade.

Dari studi yang dilakukan oleh Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA) yang dimulai pada tahun 1990 di empat kota yaitu Minneapolis, MN, Chicago, IL, Oakland, CA, dan Birmingham, AL. Studi tersebut melibatkan peserta berusia 23-35 tahun yang kemudian menjadi dasar dari kesimpulan tentang pengaruh pendapatan terhadap kesehatan seseorang.



Risiko berpenghasilan rendah


Para peneliti menganalisis data dari studi CARDIA untuk melihat apakah ada hubungan antara fluktuasi pendapatan dan risiko kejadian kardiovaskular serta kematian. Mereka pertama kali mempelajari tingkat pendapatan yang diambil dari lima penilaian pada tahun 1990-2005.

Para peneliti tersebut mendefinisikan volatilitas pendapatan sebagai perubahan persentase dari satu angka pendapatan ke persentase berikutnya. Mereka juga melihat penurunan pendapatan, atau penurunan pendapatan 25 persen atau lebih dari angka penilaian sebelumnya. Mereka kemudian mengamati jumlah orang yang mengalami masalah kardiovaskular - baik yang fatal maupun yang tidak fatal dan meninggal karena berbagai macam sebab pada tahun 2005-2015.

Dari penelitian tersebut ditemukan 106 kasus kardiovaskular dan 164 kematian. Tim juga memperhitungkan faktor-faktor lain seperti risiko penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya dan latar belakang sosiodemografi peserta.

Saat ini, hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Circulation, yang menemukan bahwa fluktuasi substansial dalam pendapatan pribadi dikaitkan dengan risiko kematian dan penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dalam dekade setelah perubahan pendapatan ini. Tingkat volatilitas pendapatan tertinggi ternyata terkait dengan risiko kematian hampir dua kali lipat serta risiko penyakit lain seperti stroke, gagal jantung, atau serangan jantung.

Semua temuan ini kemudian dibandingkan dengan orang-orang yang masuk dalam kategori yang sama tetapi memiliki sedikit perubahan pada pendapatan pribadi mereka.

Beberapa orang yang lebih mungkin mengalami perubahan pendapatan yang drastis termasuk diantaranya wanita, mereka yang menganggur, orang yang belum menikah, orang yang merokok, mereka yang berpendidikan kurang dari sekolah menengah, dan orang dengan tanda-tanda depresi.

Mengapa uang penting?


Penulis studi utama Tali Elfassy, Ph.D., di Fakultas Kedokteran Universitas Miami Miller di Florida, mengatakan bahwa volatilitas pendapatan "menghadirkan ancaman kesehatan masyarakat yang terus meningkat, terutama ketika program federal, yang dimaksudkan untuk menyerap perubahan pendapatan yang tidak terduga dengan perubahan yang terjadi secara terus menerus, dan sebagian besar pemotongan. "

"Walaupun penelitian ini bersifat observasional, hasil kami menyoroti bahwa perubahan negatif besar dalam pendapatan dapat merusak kesehatan jantung dan dapat berkontribusi pada kematian dini."

Tali Elfassy, Ph.D.
Tidak jelas apa yang sebenarnya mendorong volatilitas pendapatan pada peningkatan risiko masalah kardiovaskular, kematian, atau keduanya. Bisa jadi bahwa fluktuasi pendapatan seseorang mengakibatkan perilaku yang tidak sehat, seperti konsumsi alkohol yang berlebihan, kurang olahraga, stres, dan tekanan darah tinggi.
Para peneliti berharap bahwa ilmuwan lain akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami penyebab hubungan yang baru ditemukan ini. Mereka juga berharap bahwa temuan ini akan menjadi motivasi bagi kaum muda untuk mengembangkan potensi diri dalam mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Namun demikian, temuan ini tidak dapat disamaratakan pada semua kelompok masyarakat, negara, etnis dan budaya, . Kelompok etnis tertentu dan orang-orang yang tinggal di pedesaan yang memiliki tingkat stress dan persaingan yang rendah mungkin akan diperoleh hasil yang berbeda.

Comments

Popular posts from this blog

Olahraga Kardio Raket Mampu Mencegah Kematian Dini Hingga 47%

Ketika Anda memikirkan tentang olahraga kardio yang efektif, kegiatan yang paling mungkin muncul di benak Anda adalah olahraga kardio seperti aerobik, lari, berenang, dan bersepeda. Tetapi olahraga raket seperti tenis dapat memberikan manfaat lebih besar, menurut penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine. Dan, sebagai bonus, olahraga raket juga bisa lebih menyenangkan, yang akan membuatnya lebih mudah untuk memenuhi tujuan kebugaran Anda. Setelah meninjau data dari 80.000 orang, para peneliti menemukan bahwa peserta dalam olahraga raket mengurangi risiko kematian dini hingga sebesar 47%. Olahraga raket mengalahkan renang dan aerobik, olahraga kardio paling melindungi pada urutan kedua dan ketiga adalah renang dan aerobik dengan perbedaan dua digit. Sedangkan olahraga kardio bersepeda berada di urutan keempat. Angka-angka itu bahkan lebih tinggi untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung juga stroke . Renang dan aerobik juga memiliki manfaat yan...

Merubah Dhomir Dalam Sholat Jenazah

Doa Dalam Shalat Jenazah. Rasulullah Saw mengajarkan doa dalam shalat jenazah, اللَّهُمَّ اغْعِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُ لَهُ وَوَ ساْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِ هِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأبَْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرً ا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ “Ya Allah, ampunilah ia, rahmatilah ia, berikanlah kebaikan kepadanya, maafkanlah ia, muliakanlah tempat turunnya, lapangkanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, salju dan yang menyejukkan. Sucikanlah ia dari dosa-dosa sebagaimana kain putih dibersihkan dari noda. Gantilah negeri yang lebih baik dari negerinya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya, masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari azab kubur”, atau “dari azab neraka”. (HR. Muslim). Ada sebagian orang yang berpenda...

Ternyata Apa Dan Cara Makan Mempengaruhi Gula Darah

Jenis makanan yang Anda makan, dan bahkan urutan Anda memakannya dapat memengaruhi peluang Anda untuk terkena diabetes tipe 2, hal tersebut terungkap dalam tiga studi yang baru-baru ini dilakukan. Studi - yang dipresentasikan dalam American Society for Nutrition - menemukan: Beralih ke sebagian besar pola makan nabati (tetapi yang masih bisa memasukkan daging dan susu) dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga sebanyak 60%. Mengkonsumsi vitamin B2 dan B6 yang lebih besar dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah dari diabetes tipe 2, sementara itu mengkonsumsi lebih banyak vitamin B12 dalam pola makan tampaknya terkait dengan risiko yang lebih tinggi terhadap diabetes tipe 2. Urutan makanan yang Anda konsumsi tampaknya juga penting. Orang-orang yang makan sayur sebelum makan daging atau nasi memiliki kadar gula darah yang lebih rendah, bersamaan dengan perubahan positif pada hormon lapar mereka. Rekha Kumar, seorang ahli endokrin di NewYork-Presbyterian dan Weill Cornell Medical C...